Pages

Jumat, 03 April 2015

PENTINGNYA KEWIRAUSAHAAN

Mengembangkan Pendidikan Kewirausahaan 
di Masyarakat

Oleh : Sony Heru Priyanto 


Abstrak
     Menurut Shumpeter (1934) Enterpreoneship is driving force behind economic growth. Kewirausahaan merupakan komponen vital dalam pembangunan ekonomi. Jika indonesia ingin maju seperti negara lain , maka pembangunan kewirausahaan harus dimulai dari sekarang mengembangkan kewirausahaan, perlu disusun kurikulum yang memadai, mulai dari pendidikan usia dini sampai Perguruan Tinggi. Prinsipnya adalah mereka harus dibuat tertarik dan termotivasi, kedua mereka harus bisa dibuat melihat adanya kesempatan untuk bisnis yang menguntungkan (op-portunity factors), ketiga, mereka harus memiliki beberapa keahlian seperti social skill, indutrial skill, organizasional skill dan strategic skill. Nama program yang bisa dikembangkan seperti Entrepreneurship Orientation and Awareness Programs, New Enterprise Creation Programs dan Survival and Growth Programs for Existing Entrepreneurs.

Kata kunci :

Pentingnya Kewirausahaan.

       Pada awal abad ke 20, entrepreneurship atau kewirausahaan menjadi satu kajian hangat karena perannya yang penting dalam pembangunan ekonomi. Adalah Schumpeter (1934) yang mengatakan bahwa jika suatu negara memiliki banyak entrepeniur, negara tersebut pertumbuhan ekonominya tinggi, yang akan melahirkan pembangunan ekonomi yang tinggi, Jika suatu negara ingin maju, jumlah entrepreneurnya harus banyak. Enterprenuership is driving force behind economic growth. Kirzner mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan bagian penting dalam pembangunan.
     Rasionalisasinya adalah jika seseorang memiliki kewirausahaan,dia akan memiliki karakteristik motivasi/mimpi yang tinggi (need of achievement), berani mencoba (risk taker), innovative dan independence. Dengan sifatnya ini, dengan saja sdikit peluang dan kesempatan, dia mampu merubah, menghasilkan sesuatu yang baru, relasi baru, akumulasi modal, baik berupa perbaikan usaha yang sudah ada (upgrading), maupun menghasilkan usaha baru. Dengan usaha ini, akan menggerakan material/bahan baku untuk “berubah bentuk” yang lebih bernilai sehingga akhirnya konsumen mau membelinya. Pada proses ini akan terjadi pertukaran barang dan jasa, baik berupa sumber daya alam, uang, sumber daya sosial, kesempatan maupun sumber daya manusia. Dalam ilmu ekonomi, jika terjadi hal demikian, itu berarti ada pertumbuhan ekonomi, dan jika ada pertumbuhan ekonomi berarti ada pembangunan.
       Dalam kasus negara, kita bisa belajar dari Jepang, dimana saat PD II, mereka hancur-hancuran. Namun karena accident tersebut, Bangsa Jepang justru lebih hebat dari sebelumnya karena setelah itu, pemerintah Jepang melakukan reformasi di segala bidang dengan dua pilar, yakni pembubaran konglomerasi dan UU anti monopoli.
       Disektor pertanianyang paling awal digarap adalah reformasi lahan pertanian. Sistem “tuan tanah” yang merupakan salah satu bentuk konglomerasi di bidang pertanian dihapus, dan para “tuan tanah” tersebut dilarang memiliki luas lahan yang terlalu besar. Tanah tersebut dipetak-petak, dan masing-masing lahan digarap oleh petani pemiliknya sendiri. Kalau sebelumnya seorang tuan tanah memiliki lahan sampai seluas 8000 ha, sekarang petani di Jepang memiliki luas lahan rata-rata 1,5 ha (kecuali petani di pulau Hokkaido). Kebijakan ini telah membawa dampak besar terhadap pembangunan ekonomi di Jepang.
     Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan”oleh perusahaan.
     Salah satu penyebab kegagalan dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi suatu negara karena tidak adanya entrepreneur-ship baik dalam level individu, organisasi dan masyarakat. Peneliti sebelumnya telah mengatakan, kewirausahaan sangat berperan dalam pembangunan ekonomi (Kirzner, 1973), merupakan a vital component of productivity and growth (Baumol, 1993), berperan dalam peningkatan investasi, new business creation (Gartner, 1985), memunculkan job training (Brown et al, 1976) dan home-base business (Spencer Hull, 1986), meningkatkan employment growth (Birch, 1981;1987), penciptaan nasional identity & leadership (Bolton, 1971) dan bersama dengan kapasitas manajemen sangat menentukan kesuksesan usaha (farm performance) (Priyanto,SH,2005).
      Schumpeter(1934) bahkan menyatakan bahwa enterprenuership is driving force behind economic growth, formulating new economic combination by (1) developing new products; (2) developing new sources of materials; (3) accumalating capital resources; (4) introducing new products and new production functions; and (5) reorganizing or developing a new indus-try.
  Kewirausahaan ternyata juga sangat berperan dalam perkembangan UKM. Penelitian terdahulu menunjukkan, kinerja industri kecil yang rendah di sebabkan beberapaa faktor antaralain rendahnya karakteristik kewirausahaan (poor entre-preneurial). Kewirausahaan menjadi “motorpenggerak” yang berperan dalam pembangunan industri. Dalam prosesindustrialisasi diperlukan sikap kewirausahaan dalam pembangunan ekonomi (Anderson, 2002; Amstrong dan Taylor, 2000).
      

      Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan ketiadaan kewirausahaan. Oleh karena itu keberadaan kewirausahaan mulai dari level individu, organisasi sampai masyarakat sangat terkait erat dengan miskin atau tidaknya masyarakat. Jika kewirausaan tinggi, maka kmiskinan akan rendah.

Penutup

     Prinsip dasar dalam pendidikan kewirausahaan adalah mereka harus dibuat tertarik dan termotivasi, kedua mereka harus bisa dibuat melihat adanya kesempatan untuk bisnis yang menguntungkan (opportunity factors), ketiga, mereka harus memiliki beberapa keahlian seperti social skill, indutrial skill, organizasional skill dan strategic skill. Nama program yang bisa dikembangkan seperti Entrepreneurship Orientation and Awareness Programs, New Enterprise Creation Programs dan Survival and Growth Programs for Existing Entrepreneurs.
      Pihak pihak yang bisa dilibatkan dalam hal ini adalah media masa, lembaga pendidikan, pemerintah, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat dan pihak-pihak lain yang memiliki minat besar dalam pengembangan kewirausahaan. Targetnya mulai dari anak-anak, para wanita dan ibu-ibu, orang muda, para karyawan, dan pengangguran. Para partner ini bersama-sama dengan masyarakat harus membangun entrepreneurial culture sehingga pembangunan kewirausahaan bisa terjadi. Kita harus bersama membangun nilai, norma dan ekspektasi baru mengenai kewirausahaan. Bangsa kita harus diarahkan menjadi bangsa yang independen, kreatif, memiliki mimpi, terbuka dan berani mencoba dan memiliki stocks of knowledge yang memadai sehingga akan dihasilkan invensi, inovasi, kreasi dan ide-ide baru guna mengembangkan sumberdaya yang ada disekitar kita. Jika ini terjadi, kita boleh berharap bangsa kita menjadi bangsa yang mampu dan maju.
      Kewirausahaan juga berpengaruh langsung terhadap kinerja usaha. Baum et al. (2001) mengatakan bahwa sifat seseorang (yang bisa diukur dari ketegaran dalam menghadapi masalah, sikap proaktif dan kegemaran dalam bekerja), kompetensi umum (yang bisa diukur dari keahlian berorganisasi dan kemampuan melihat peluang), kompetensi khusus yang dimilikinya seperti keahlian industri dan keahlian teknik, serta motivasi (yang bisa diukur dari visi, tujuan pertumbuhan dan self efficacy), berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan usaha. Hampir senada dengan Baum et al. (2001), Lee dan Tsang (2001) menyimpulkan bahwa elemen kewirausahaan seperti internal locus of control, need for achievement, extroversion, education experience dan self re-liance mempengaruhi pertumbuhan usaha.
       Menurut ahli perilaku (behaviorits), entrepreneurship sangat berperan dalam kesuksesan seseorang (Kets de Vries, 1977), Seseorang yang memiliki kewirausahaan tinggi dan digabung dengan kemampuan manajerial yang memadai akan menyebabkan dia sukses dalam usahanya (Priyanto, 2006). Entrepreneurship juga berperan dalam mengembangkan seseorang sehingga memiliki keinginan untuk memaksimalkan economic achivement (Mc clellan, 1976), dan menyebabkan seseorang bisa tahan uji,bisa fleksibel, bisa dipercaya, bisa menghadapi masalah yang di hadapinya. Smentara itu barkham, 1989; pollock, 1989 dalam Ghos (1999), mengatakan bahwa skill, attitude dan pencarian informasi pasar merupakan faktor yang memberikan kontribusi pada kesuksesan perusahaan. Ahli ahli sosiologi mengataakan bahwa entrepreneurship berperan dalam mengintegrasikan mengarbitrase dan mengatur subsistem dalam masyarakat dan ekonomi (Parsons and Smelser,1956). Mereka para entrepreneur merupakan agen perubahan dalam masyarakat dimana dia tinggal (Barth, 1967). Storey (1982) berpendapat bahwa entrepreneur memegang peranan sebagai kreator dalam persaingan dan penciptaan lapangan kerja, sebagai “benih” dimasa depan dan sebagai alternatif dalam hal menghubungkan the bureaucratic employer-employee. Sementara itu Hagen (1960) percaya bahwa entrepreneur mampu memotivasi masyarakat karena dia dipandang menjadi kaum elit karena kesuksesannya di dunia usaha. Entrepreneur bisa memberikan inspirasi bagi masyaraka

Pustaka

Anderson, Dennis, 2002. Small – Scale Industry in Developing Countries:    
     A Discussion of the Issue. World Development 10 (11).
Amstrong, Harvey dan Jim Taylor, 2000. Regional Economics and Policy (Third   
     Edition), New York.
Barth, F. (1967). On the Study of Social Change. American Anthropologist, pp-    
      661- 668.

0 komentar:

Posting Komentar